Mengapa Nama Nabi Ibrahim Selalu Hadir dalam Salat dan Haji?
Ketika membahas ibadah haji, banyak orang langsung teringat Ka’bah, ihram, thawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah. Namun, tidak semua menyadari bahwa hampir seluruh rangkaian ibadah haji berakar kuat pada kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai Abul Anbiya (Bapak para Nabi) dan sosok sentral dalam sejarah tauhid. Di tengah masyarakat yang menyembah berhala, beliau berdiri teguh mengesakan Allah.
Allah memilih Nabi Ibrahim bukan hanya sebagai nabi, tetapi juga sebagai peletak dasar ibadah haji yang hingga hari ini dijalankan oleh jutaan umat Islam dari seluruh dunia. Atas perintah Allah, Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail AS, membangun Ka’bah di tanah Makkah. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail…”
(QS. Al-Baqarah: 127)
Ka’bah inilah yang menjadi pusat arah ibadah umat Islam dan titik sentral pelaksanaan haji serta umrah. Setiap thawaf yang dilakukan jamaah hari ini adalah pengulangan simbolik dari ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah. Setelah Ka’bah berdiri, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia agar berhaji :
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus…”
(QS. Al-Hajj: 27)
Secara logika, seruan itu tampak mustahil disampaikan di lembah sunyi tanpa teknologi. Namun, seruan tersebut terus menggema hingga hari ini, terbukti dengan jutaan jamaah yang datang setiap tahun dari berbagai penjuru dunia.
Salah satu fase penting haji, yaitu di Mina, tidak bisa dilepaskan dari kisah monumental Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, keduanya menunjukkan ketaatan sempurna. Allah kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan. Peristiwa inilah yang menjadi dasar ibadah kurban dan pelaksanaan penyembelihan hewan pada hari raya Iduladha, yang selalu beriringan dengan puncak ibadah haji.
Haji juga mengabadikan keteladanan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim. Ketika ditinggalkan di lembah Makkah bersama bayi Nabi Ismail, beliau berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah mencari air. Gerakan inilah yang diabadikan dalam ibadah sa’i, sebagai simbol : Ikhtiar maksimal, Tawakal kepada Allah, Keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat. Air zamzam yang diminum jamaah hingga hari ini adalah buah dari keteguhan tersebut.
Dari thawaf, sa'i, wukuf, hingga kurban, haji bukan sekedar ibadah fisik. Ia adalah rekonstruksi sejarah tauhid, pengingat tentang : kepatuhan total kepada Allah, pengorbanan tanpa syarat, kesabaran dalam ujian, tauhid yang murni. Setiap langkah jamaah haji sejatinya adalah napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Jika diperhatikan, keterkaitan Nabi Ibrahim tidak hanya muncul dalam ibadah haji, tetapi juga dalam salat yang kita tunaikan setiap hari. Pada tahiyat akhir, umat Islam membaca “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim…”
Penyebutan Nabi Ibrahim dalam salat bukan tanpa alasan. Nabi Ibrahim adalah simbol tauhid yang paling kokoh, sosok yang menunjukkan kepasrahan total kepada Allah tanpa syarat. Salat merupakan ibadah penjaga tauhid harian dilakukan secara terus-menerus. Sementara haji adalah puncak perjalanan tauhid, yang dijalankan secara total melalui fisik, harta, dan jiwa. Keduanya bertemu pada satu titik yang sama : Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim, arah salat umat Islam, sekaligus pusat ibadah haji.
Dengan menyebut Nabi Ibrahim dalam salat, umat Islam sejatinya sedang mengingat akar ajaran tauhid yang juga menjadi dasar ibadah haji. Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ melanjutkan risalah tauhid Nabi Ibrahim, umatnya pun diminta untuk menapaki jalan yang sama.
Memahami kaitan Nabi Ibrahim dengan Haji membuat ibadah ini jauh lebih bermakna. Jamaah tidak hanya menjalankan rukun dan wajib, tetapi juga menghidupkan nilai tauhid, kepasrahan dan keikhlasan. Haji bukan hanya perjalanan ke Tanah Suci, melainkan perjalanan kembali kepada fitrah sebagai hamba Allah. Semoga kita semua diberi kesempatan untuk menapaki jejak mulia ini, dengan ilmu, kesiapan dan niat yang lurus..
“Labbaik Allahumma Labbaik.”
